SEJARAH PERADABAN ISLAM DI ASIA TIMUR

I    ISLAM DI CINA
Agama Islam masuk ke Cina pada masa pemerintahan Utsman bin Affan, Mubaligh pertama yang diutus ke negeri itu ialah Sa’ad bin Abi Waqash. Setelah itu banyak saudagar arab yang masuk Cina sambil berdakwah. Masyarakat Cina umumnya menerima kedatangan agama Islam, dan banyak diantara mereka yang tertarik menjadi muslim. Keagungan ajaran Islam yang dipraktekan dan diajarkan oleh para mubaligh, membuat masyarakat Cina kagum dan menyebutnya dengan Hui-hui Chew atau Tsing Ching Chew yang artinya agama yang suci.
Tempat yang pertama kali menerima dakwah Islam ialah Kanton, salah satu kota besar di Cina. Sa’ad bin Abi Waqash pertama kali berdakwah di kota itu, dan ia cukup lama tinggal di kota tersebut sampai meninggal dunia. Kuburanya masih terawat baik sampai sekarang, karena masyarakat muslim Cina sangat menghormatinya.
Selain melalui jalur dakwah, agama Islam dapat berkembang melalui jalur perkawinan. Banyak para mubaligh muslim yang kemudian menikahi gadis setempat dan beranak pinak. Sehingga anak keturunan mereka itulah yang kemudian meneruskan dakwah Islam di negeri tirai bambu itu.1
Cina memiliki sejarah meliputi jangka waktu meliputi lebih dari 4000 tahun, sehingga termasuk Negara berkeadaban tertua, disamping India, Mesir, dan Mesopotamia. Dalam jangka waktu 4000 tahun lebih cina mempunyai 24 dinasti dan 2 republik, yaitu Republik Nasionalis Cina dan Republik Rakyat Cina.2
T’ai Tsung naik takhta pada tahun 626, empat tahun setelah Nabi Muhammad SAW dan sahabat-sahabatnya meninggalkan Mekah menuju Madinah. Kira-kira pada waktu yang sama,suku-suku nomad Turki di Asia Tengah berkumpul diluar tembok besar Cina untuk serbuan missal. Namun, T’ai Tsung dapat mengusir mereka,. Maka mulai muncullah migrasi menuju ke barat. Mereka adalah suku yang anak cucunya merupakan masyarakat muslim Hui yang berbahasa Cina dari daerah selatan dan tengah.3
Pada waktu T’ai Tsung mempertahankan dan mempersatukan Cina, Nabi Muhammad SAW, baru meletakkan dasar-dasar Negara islam. Pada tahun 705 M. Dinasti Umayah dijatuhkan oleh Dinasti Bani Abbas. Satu tahun kemudian, tentara muslim berhadapan dengan tentara Cina untuk pertama kalinya di Talas. Dengan bantuan orang-orang Turki, umat Islam dapat mengalahkan tentara cina. Semenjak itulah penduduknya sebagian besat memeluk agama Islam.4
Hasil dari pertempuran talas lainnya adalah tertangkapnya beberapa orang Cina yang ahli dalam membuat kertas. Karya mereka selanjutnya diperkenalkan ke Dunia Islam. Dengan inilah mendorong berkembangnya kebudayaan Bagdad sejajar dengan kebudayaan Ch’ang-an(Cina).
Selama abad ke-19, terdapat pemberontakan-pembrontakan besar di negeri  Cina, dan pemberontakan-pemberontakan di Yunnan (1855-1873) oleh penduduk muslim yag akhirnya ditumpas dengan kekejaman yang luar biasa. Setelah revolusi kebudayaan(1966), umat Islam yang merupakan minoritas sama sekali tidak menampakkan diri. Pada awal revolusi mesjid-mesjid dirusak, dihancurkan atau ditutup.5

2   ISLAM DI JEPANG
Sebelum perang dunia ke-2, jepang termasuk Negara ekslusif yang menutup diri, sehingga agama Islam baru masuk ke Negara itu setelah pecahnya perang dunia ke-2 tersebut.  Pada waktu itu Jepang berperang melawan Rusia. Banyak penduduk Rusia yang mengungsi ke Jepang salah satunya seorang ilmuwan yang bernama Abdul Rasyid Ibrahim, ia merupakan teman karibnya Jenderal Akashi, panglima masyarakat negeri itu dan berhasil mengislamkan Konaru dan Yama Oka. Mereka berdua sempat melaksanakan ibadah haji.6
Sejarah perkembangan Islam di Jepang menunjukkan bahwa terdapat gelombang orang-orang yang memeluk Islam. Faktanya, kampanye-kampanye religius yang sudah banyak dilakukan tidak terlalu banyak menuai sukses dalam menyebarkan “agama baru” ini. Data statistic mengindikasikan bahwa 80 % dari total populasi percaya pada Buddhism atau Shintoism dimana 0,7 % adalah penganut Nasrani. Hasil terakhir yang diperoleh berdasarkan polling yang dilakukan oleh majalah bulanan Jepang menyatakan bahwa terdapat sebuah gelombang protes yang penting seputar keberadaan agama. Hanya satu dari empat orang Jepang percaya akan dogma-dogma agama. Kurangnya kepercayaan terhadap dogma-dogma agama umumnya terjadi pada kaum muda Jepang umur 20 tahun dengan angka mencapai 85 %. Para pelaku dakwah yang direpresentasikan oleh komunitas Muslim di Jepang dengan estimasi jumlah mereka sebanyak 100 ribu orang sendiri dirasa amat kecil jika dibandingkan dengan total populasi penduduk Jepang yang mencapai lebih dari 20 juta orang. Para pelajar dan mahasiswa bersama dengan para pekerja yang berada dalam situasi genting melakukan perluasan segmen komunitas mereka. Mereka terkonsentrasi di kota-kota besar seperti Hiroshima, Kyoto, Nagoya, Osaka dan Tokyo namun jarang yang terorganisir secara rapi dalam unit-unit yang mapan untuk melakukan program-program dakwah yang efektif. Faktanya, asosiasi para pelajar Muslim serta masyarakat local mengorganisir camp-camp secara periodic serta melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan pemahaman bagaimana mengajarkan Islam secara benar dan tepat serta untuk memperkuat hubungan persaudaraan diantara sesama Muslim.
Tidak ada kelanjutan dari upaya-upaya untuk bertahan dengan situasi yang menuntut penyesuaian-penyesuaian bagaimana di satu sisi harus menjalani gaya hidup yang modern dan di sisi lain harus menyeru orang pada perbaikan jiwa agar tercipta keseimbangan hidup. Kesulitan-kesulitan yang kemudian dihadapi oleh orang-orang Muslim adalah dalam hal pengadaan fasilitas komunikasi, perumahan, pendidikan anak, atau makanan halal serta buku-buku Islam yang pada saat itu, tahun 1980-an masih sangat sulit. Dan hal ini merupakan faktor-faktor tambahan yang menjadi penghalang bagi jalannya dakwah di Jepang. Kewajiban untuk berdakwah seringkali dirasakan sebagai kewajiban seorang Muslim untuk mengajarkan Islam kepada non-Muslim. Dan banyak Muslim yang merasa bahwa kegiatan mereformasi (islaah) serta memperbaharui (tajdid) itu amat diperlukan, sehingga otomatis hal tersebut juga mempengaruhi bentuk-bentuk dakwah yang dilakukan oleh komunitas-komunitas Muslim yang eksis di Jepang.
Sebuah kondisi yang menuju perbaikan serta kemajuan dalam hal pengetahuan Islam serta kehidupan (living condition) demi keberhasilan dakwah amat diperlukan di Jepang. Satu hal yang harus dipahami adalah bahwa jika tindakan pengabaian serta ketidakpedulian oleh warga negara Jepang yang Muslim terkait dengan hal-hal yang berhubungan dengan persoalan jamaah dirubah, maka resiko yang harus ditanggung komunitas akan bisa diatasi dan dicairkan melalui distorsi keyakinan Islam yang amat hebat, yang terus tumbuh. Kemungkinan tersebut pada kenyataannya bersentuhan dengan keterbukaan permanent orang-orang muslim terhadap pengaruh adat-istiadat Jepang dan ritual-ritual tradisional seperti menundukkan kepala amat dalam serta berpartisipasi secara kolektif dalam acara-acara yang bersifat religiuis dan berkunjung ke kuil. Mungkin permasalahan yang muncul adalah ketika keterlibatan pada anak Muslim dalam perayaan-perayaan semacam itu akan menjadikan mereka target empuk transmisi dan penanaman budaya non-Islam dan kebiasaan soaial. Komunitas Islam di Jepang amat membutuhkan kehadiran lembaga-lembaga Islam di seluruh Jepang.
Terdapat upaya-upaya permanent untuk membangun atau merubah unit-unit pemukiman menjadi masjid-masjid di banyak kota dan dengan pertolongan dari Allah Yang Maha Kuasa, juga ingin membangun perusahaan-perusahaan yang diharapkan akan menghasilkan buah-buahan. Terdapatnya miskonsepsi dalam pengajaran Islam diperkenalkan oleh media Barat harus diluruskan dengan sebuah pendekatan yang lebih efisien yang diambil dengan penuh pertimbangan terhadap adanya keistimewaan masyarakat jepang yang merupakan salah satu masyarakat yang paling terpelajar di dunia. Karena adanya distribusi yang tidak merata, maka terjemahan Al-Quran dalam bahasa Jepang tidak tersedia di ruang publik. Literatur Islam benar-benar sulit ditemui di toko buku atau perpustakaan umum kecuali beberapa essay yang ditulis dalam bahasa Inggris serta buku-buku yang dijual dengan harga yang relative mahal. Akibatnya, tidak heran jika kita hanya menemukan bahwa pengetahuan orang-orang Jepang mengenai Islam hanya terbatas seputar poligami, Sunni dan Syiah, Ramadhan, Mekah,. Allah adalah Tuhan-nya orang Islam, dan Islam adalah agamanya Muhammad. Akankah Islam bergaung lebih keras di Jepang? Dengan terdapatnya bukti-bukti yang signifikan mengenai terdapatnya tanggung jawab untuk berdakwah serta penilaian yang rasional terhadap adanya keterbatasan dan kapabilitasnya, komunitas Muslim menunjukkan komitmen yang lebih kuat untuk melaksanakan kewajiban dakwahnya dengan cara-cara yang lebih terorganisir. Di masa yang akan datang diharapkan masa depan Islam dan para pemeluknya akan lebih baik daripada sebelumnya, tentunya dengan mengharapkan pertolongan Allah.7
Perkembangan berikutnya, islam semakin mendapat tempat dimasyarakat jepang. Banyak prajurit Jepang yang pulang dari dunia ke-2 dengan oleh-oleh masuk Islam. Maka agama Islam pun semakin berkembang dengan pesat, apalagi setelah Haji Umar Meta mendirikan oganisasi umat Islam pada tahun 1980 M, dan Dr. Syauki Futaki mendirikan Rumah Sakit Islam terbesar di Jepang. Sampai hari ini, agama Islam di Jepang berkembang dan semoga tetap jaya.8
   ISLAM DI KOREA
Agama islam masuk ke Korea pada tahun 1955M. yang dibawa oleh Abdurrahman dan Zubair Khoci. Keduanya adalah imam rohani tentara Turki yang dikirim ke Korea dalam misi perdamaian antara Korea Utara dan Korea Selatan. Orang Korea yang pertama kali masuk Islam adalah Umar Kim Jin Kyu, Haji Mohamad Yon, Haji Sabir Suh. Pada tahun 1959 mereka melaksanakan ibadah haji ke Mekah. Setelah bertemu jutaan umat Islam , dari berbagai Negara mereka segera melakukan dakwah di negaranya.
Berkat perjuangan mereka, agama Islam dapat berkembang dengan pesat di Korea. Pada tahun 1963 di Seoul, Ibu kota Korea Selatan didirikan sebuah masjid megah, dan lengkap dengan fasilitas dakwahnya, baik untuk pendidikan al-Qur’an, pertemuan akbar dan sebagainya. Masjid itu dipimpin oleh Haji Sabir Suh.
Tahun 1980 juga didirikan sebuah Universitas Islam di Kota Yang In. Universitas itu memiliki 15 fakultas, yang lima diantaranya adalah fakultas Syari’ah, Bahasa Arab, Ilmu Perbandingan Agama, Sejarah Islam, dan Penddidikan Agama Islam. Umat Islam di Korea pada saat ini sekitar 21 ribu orang.9


1 A. Waid Sy. Mamahami Pendidikan agama Islam (Bandung: CV ARMICO,2007), hlm. 138
2 WD.Sukisman,Sejarah Cina Konterporer(I), (Jakarta:  Pradnya Paramita,1992), hlm. 172
3 A. Mukti Ali, Memahami beberapa Aspek Ajaran Islam,(Bandung: Mizan,1996), hlm.210.
4 Drs. Atang Abd., Hakim, M.A, Metodologi Studi Islam,(Bandung: PT Remaja Rosdakarya,2009), hlm. 173.
5 A. Mukti Ali,Memahami beberapa Aspek Ajaran Islam,( Bandung: Mizan, 1996), hlm.206.6 A. Waid Sy. Mamahami Pendidikan agama Islam (Bandung: CV ARMICO,2007), hlm. 138.
7 Rpublika Newsroom, Cahaya Islam Jepang,(www.google.com 2009), diakses pada hari Senin,26 Maret 2012 pada jam 17.00 Wib.
8 A. Waid Sy. Mamahami Pendidikan agama Islam (Bandung: CV ARMICO,2007), hlm. 138
9  A. Waid Sy. Mamahami Pendidikan agama Islam (Bandung: CV ARMICO,2007), hlm. 138

Belum ada Komentar untuk "SEJARAH PERADABAN ISLAM DI ASIA TIMUR"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel